Jakarta –Sorotbrita.com, Indonesia memiliki peluang besar dalam bisnis penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS/CCUS). Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, memperkirakan nilai bisnis ini bisa mencapai puluhan miliar dolar, tergantung harga karbon global.
“Di Eropa, harga satu ton karbon di Swedia bisa mencapai 100 dolar Kanada atau sekitar 80 Euro. Potensi di Indonesia sangat menjanjikan,” ujar Hashim pada ESG Sustainability Forum 2026, Selasa (3/2/2026).
CCS/CCUS adalah teknologi penting untuk menekan emisi karbon. Indonesia memiliki rongga bawah laut yang luas, mampu menampung ratusan giga ton karbon. Kondisi ini menarik bagi investor dan perusahaan energi.
Beberapa perusahaan besar, seperti Exxon, BP, dan Grup Bakrie, mulai melirik bisnis carbon capture di Indonesia. Hashim menekankan teknologi ini penting untuk negara yang ruang penyimpanannya terbatas, seperti Singapura, Korea Selatan, dan Jepang.
“Indonesia memiliki keunggulan karena industri minyak kita sudah ada sejak era Belanda. Ruang bawah tanah dan bawah laut relatif luas untuk CCS,” jelas Hashim.
Dengan potensi ekonomi besar dan manfaat lingkungan tinggi, CCS/CCUS bisa menjadi pilar transformasi energi bersih. Teknologi ini mendukung pengurangan emisi nasional sekaligus membuka peluang bisnis baru bernilai tinggi.
Editor : EL









