Tangerang – Sorotbrita.com, Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI) menargetkan 40 perusahaan industri baja yang diduga tidak membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pelanggaran tersebut menyebabkan negara kehilangan potensi penerimaan hingga Rp4 triliun–Rp5 triliun per tahun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hal tersebut saat kunjungan kerja di Tangerang, Banten, Kamis (5/2/2026).
“Jumlahnya besar, sampai 40 perusahaan. Kami memprediksi penerimaan negara berkurang Rp4 triliun sampai Rp5 triliun per tahun. Sekarang saatnya perusahaan membayar pajak,” kata Purbaya.
Pemerintah Kejar Kebocoran Penerimaan Negara
Kemenkeu terus memperkuat pengawasan untuk menutup kebocoran pajak. Aparat pajak secara aktif menelusuri perusahaan yang tidak patuh agar segera menyetorkan kewajibannya kepada negara.
Purbaya memastikan jajarannya akan memanggil langsung perusahaan yang terindikasi melanggar aturan perpajakan.
“Staf saya akan memanggil perusahaan-perusahaan itu agar mereka memahami langkah pemerintah dan mematuhi peraturan ke depan,” ujarnya.
Ia menegaskan pemerintah tidak memberi ruang kompromi bagi pelaku usaha yang mengabaikan kewajiban pajak.
“Jangan main-main dengan Indonesia. Kami akan menjalankan prosesnya dan memanggil pemilik perusahaan,” tegas Purbaya.
Dirjen Pajak Paparkan Modus Penghindaran Pajak
Direktur Jenderal Pajak Kemenkeu Bimo Wijayanto menjelaskan perusahaan-perusahaan tersebut menggunakan modus serupa, yaitu menyembunyikan omzet dengan melaporkan SPT tidak sesuai kondisi sebenarnya.
“Perusahaan-perusahaan ini melakukan pelanggaran pada periode 2016 sampai 2019. Mereka tidak melaporkan omzet sebenarnya,” kata Bimo.
Direktorat Jenderal Pajak kini meningkatkan penanganan kasus tersebut ke tahap penyidikan dan menelusuri keterlibatan pemilik saham.
“Kami sedang melakukan forensik dan mengambil data langsung dari server perusahaan terkait,” ujarnya.
Mayoritas Beroperasi di Jakarta dan Banten
Bimo menyebut perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di industri baja dan produk turunannya, termasuk hebel. Sebagian besar perusahaan beroperasi di wilayah Jakarta dan Banten.
“Perusahaan tersebar di Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Pusat. Pabriknya banyak berada di kawasan industri, terutama yang melakukan peleburan baja billet dengan bahan baku scrap,” jelasnya.
Editor : EL









