Jakarta– Sorotbrita.com ,Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat kini memberi tekanan besar pada pasar tenaga kerja global. Teknologi ini tidak hanya memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), tetapi juga membuat banyak perusahaan menahan perekrutan karyawan baru.
Morgan Stanley melaporkan bahwa pekerja di Inggris merasakan dampak adopsi AI paling besar dibandingkan negara maju lainnya. Sepanjang tahun lalu, perusahaan-perusahaan di Inggris memangkas tenaga kerja hingga 8%. Angka ini menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia.
Perusahaan juga semakin jarang membuka lowongan kerja baru. Penurunan paling tajam terjadi pada posisi yang berkaitan langsung dengan AI, seperti pengembang perangkat lunak dan konsultan teknologi.
Data Kantor Statistik Nasional Inggris menunjukkan bahwa jumlah lowongan di bidang AI turun hingga 37%. Sebagai perbandingan, lowongan di sektor pekerjaan lain hanya turun sekitar 26%.
Justin Moy dari EHF Mortgages menyebutkan bahwa meningkatnya biaya perekrutan mendorong banyak usaha kecil beralih ke AI dan layanan outsourcing. Langkah ini membuat perusahaan tidak lagi mengisi peran tradisional yang sebelumnya banyak menyerap tenaga kerja lokal.
Morgan Stanley juga menemukan bahwa banyak perusahaan menggunakan AI sebagai strategi utama untuk menekan biaya operasional. Akibatnya, perusahaan membiarkan hingga seperempat posisi tetap kosong tanpa melakukan penggantian.
Meski begitu, penerapan AI tetap memberi keuntungan bagi dunia usaha. Perusahaan di Inggris yang menggunakan teknologi ini mencatat pertumbuhan kinerja rata-rata sebesar 11,5%.
Selain itu, AI berpotensi membantu pemulihan ekonomi Inggris. Teknologi ini dapat mendorong pertumbuhan produktivitas hingga 0,8% dalam 10 tahun ke depan.
Di sisi lain, pasar tenaga kerja secara keseluruhan terus melemah. Sejak 2022, jumlah lowongan pekerjaan di Inggris menyusut sekitar sepertiga atau setara dengan setengah juta posisi.
AI berkontribusi terhadap sekitar seperlima dari total penurunan tersebut. Dampak terbesar muncul di sektor profesional, ilmiah dan teknis, layanan administrasi, serta teknologi informasi
Editor : EL









