Jakarta –Sorotbrita.com, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memulai relokasi kapal perikanan yang tidak lagi beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Muara Angke, Jakarta. Langkah ini bertujuan mengurangi kepadatan kapal di pelabuhan.
KKP menilai keberadaan kapal mangkrak menghambat aktivitas pelayaran dan bongkar muat. Karena itu, KKP mengambil langkah tegas dengan memindahkan kapal yang tidak aktif.
KKP Targetkan Relokasi 365 Kapal
Kepala Pangkalan PSDKP Jakarta, Sigit Bintari, menyebut KKP telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hasil koordinasi tersebut mencatat 365 kapal masuk daftar relokasi.
Kapal-kapal itu menutup alur pelayaran dan meningkatkan risiko kecelakaan laut.
“Kami memindahkan kapal yang tidak aktif agar alur keluar masuk kapal tetap aman,” ujar Sigit, Minggu (8/2/2026).
KKP memprioritaskan pembukaan alur pelayaran di Muara Angke.
Tim Gabungan Pindahkan 22 Kapal
Memasuki hari keempat operasi, tim gabungan berhasil memindahkan 22 kapal mangkrak. Tim melibatkan Direktorat Jenderal PSDKP, Syahbandar Perikanan, dan UP3 Muara Angke.
Petugas menarik kapal menggunakan tug boat dan sea rider. Kapal kemudian berpindah ke Dermaga Kali Adem dan Dermaga Dock Green Bay.
Kapal Rusak Picu Penumpukan
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Lotharia Latif, menjelaskan kapal rusak menjadi penyebab utama kepadatan pelabuhan. Banyak kapal dibiarkan bertahun-tahun tanpa perawatan.
Kondisi tersebut memakan ruang dermaga dan mengganggu jalur pelayaran. Latif meminta pemilik kapal segera mengambil keputusan.
“Pemilik harus memperbaiki kapal atau melakukan pemusnahan. Kapal rusak tidak boleh berada di area operasional,” tegas Latif.
KKP Hentikan Sementara Izin Kapal
KKP juga menerapkan moratorium sementara penerbitan izin kapal penangkap ikan di PPN Muara Angke sejak Januari 2026. Kebijakan ini bertujuan menekan jumlah kapal di pelabuhan.
Data KKP mencatat 2.564 kapal berpangkalan di Muara Angke. Jumlah tersebut melampaui kapasitas kolam dan dermaga.
Cuaca buruk memperparah situasi pelabuhan. Akibatnya, Muara Angke lebih sering melayani kebutuhan administrasi dan logistik daripada bongkar muat hasil tangkapan.
Editor : EL









