Jakarta –Sorotbrita.com, Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 masih di atas 5%. Namun, pelaku usaha khawatir karena pasar domestik menyerap barang lebih lambat dan ekspor melemah, berpotensi menimbulkan penumpukan stok di produsen.
Industri Manufaktur Dorong Pertumbuhan
Sepanjang 2025, ekonomi nasional tumbuh 5,11%. Pada kuartal IV 2025, pertumbuhan mencapai 5,39% year on year. Industri pengolahan tumbuh 5,40%, didorong pembentukan modal tetap bruto yang naik 6,12%.
Sektor manufaktur tetap mendominasi PDB dengan kontribusi 19%, menunjukkan suplai barang domestik terus meningkat.
Konsumsi Rumah Tangga Masih Menjadi Penyangga
Konsumsi rumah tangga berkontribusi 53,88% terhadap PDB. Pada kuartal IV 2025, konsumsi tumbuh 5,11%, terdorong stimulus pemerintah dan liburan akhir tahun.
Meski naik, konsumsi ini belum cukup untuk menyerap kelebihan produksi industri.
“Pertumbuhan konsumsi (5,11%) lebih rendah dari suplai industri (5,40%), ekspor hanya tumbuh 3,25%, sedangkan logistik naik 8,98%. Risiko penumpukan stok jadi nyata,” kata Ikhwan Primanda, Ketua Komite Tetap Perencanaan Ekonomi dan Moneter Kadin.
Ekspor Melambat, Logistik Meningkat
Ekspor kuartal IV 2025 hanya naik 3,25%, turun dari kuartal sebelumnya 9,14%. Aktivitas transportasi dan pergudangan tumbuh 8,98%, tetapi penjualan tidak sepadan, meningkatkan risiko stok menumpuk.
Konstruksi Perlahan, Infrastruktur Jadi Kunci
Sektor konstruksi tumbuh 3,81% pada kuartal IV 2025. Pertumbuhan menurun seiring belanja pemerintah melemah.
Program KUR Perumahan, renovasi 70 ribu sekolah, dan pembangunan infrastruktur diharapkan mendorong konstruksi dan real-estate, sekaligus meningkatkan 140-an industri terkait.
“Proyek infrastruktur, KUR Perumahan, dan renovasi sekolah bisa dorong pertumbuhan sektor konstruksi secara signifikan,” tambah Ikhwan.
Produktivitas dan Tantangan Ketenagakerjaan
Sektor pertanian menyerap 28% tenaga kerja, tapi hanya menghasilkan 13% nilai ekonomi, menandakan produktivitas rendah. Sektor pertambangan, real estate, dan teknologi memiliki produktivitas tinggi, tapi menyerap sedikit tenaga kerja.
Investasi Berkualitas Penting
Indonesia perlu mendorong investasi tepat guna yang membawa teknologi efisien, meningkatkan produktivitas, dan memastikan alih teknologi ke pemain lokal.
Editor : EL









