JAKARTA – Sorotbrita.com, Film Jepang Kokuho langsung mencuri perhatian sejak awal penayangan. Setelah tayang perdana di Cannes Film Festival, film ini mendapat sorotan luas dari publik internasional. Selanjutnya, ketika rumah produksi merilisnya di Jepang pada Juni 2025, penonton berbondong-bondong datang ke bioskop.
Alhasil, dalam 102 hari, film ini menembus 10 juta penonton. Dengan capaian tersebut, Kokuho masuk jajaran film live-action terlaris sepanjang sejarah Jepang.
Makna Judul dan Latar Cerita
Secara harfiah, “kokuho” berarti harta karun bangsa. Oleh karena itu, judul ini merefleksikan nilai seni tradisional yang menjadi inti cerita.
Film ini mengikuti perjalanan hidup Kikuo Tachibana yang diperankan Ryo Yoshizawa. Pada era 1960-an, konflik antar geng merenggut nyawa ayahnya. Setelah tragedi tersebut, aktor kabuki ternama Hanai Hanjirō mengasuh Kikuo dan membimbingnya masuk ke dunia teater tradisional Jepang.
Sejak saat itu, Kikuo berlatih keras untuk membangun masa depannya di panggung kabuki.
Rivalitas dan Tekanan Garis Keturunan
Di sisi lain, Kikuo tumbuh bersama Shunsuke, putra kandung Hanjirō, yang diperankan Ryusei Yokohama. Awalnya mereka menjalin hubungan erat layaknya saudara. Namun kemudian, persaingan mulai muncul ketika kemampuan Kikuo semakin menonjol.
Dalam dunia kabuki, garis keturunan memegang peranan penting. Karena itu, Shunsuke menghadapi tekanan besar sebagai pewaris sah keluarga. Sementara itu, Kikuo harus membuktikan diri lewat dedikasi dan kerja keras.
Konflik tersebut perlahan mengubah hubungan mereka. Pada akhirnya, keduanya harus memilih antara ambisi pribadi atau loyalitas keluarga.
Adaptasi Novel dan Visi Sutradara
Film ini mengadaptasi novel karya Yoshida Shuichi yang terbit pada 2018. Kemudian, sutradara Lee Sang-il menerjemahkan kisah tersebut ke layar lebar dengan pendekatan visual yang kuat.
Sepanjang durasi tiga jam, penonton menyaksikan pertunjukan kabuki yang megah, lengkap dengan tata panggung artistik dan kostum detail. Selain menghadirkan keindahan seni, film ini juga menggali sisi manusia para tokohnya. Dengan demikian, cerita terasa emosional sekaligus reflektif.
Editor : EL









