Sorotbrita.com – Di California, Amerika Serikat, publik mengenal sosok pendeta bernama Willy Amrul. Ia lahir dengan nama Abdul Wadud Karim Amrullah, atau yang akrab disapa Awka. Tak banyak yang mengetahui bahwa ia merupakan adik seayah dari ulama besar Indonesia, Buya Hamka.
Awka dan Hamka memiliki ayah yang sama, yakni Abdul Karim Amrullah. Namun keduanya lahir dari ibu yang berbeda dan terpaut usia 19 tahun.
Lahir dari Keluarga Ulama Terkemuka
Sebagai anak ulama besar Minangkabau, Awka tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat. Sejak kecil, keluarganya membekalinya dengan pendidikan Islam, baik melalui sekolah maupun pengajaran langsung di rumah.
Berbeda dengan Hamka yang merantau sejak muda, Awka lebih sering mendampingi sang ayah dalam berbagai aktivitas dakwah. Ia bahkan menyaksikan langsung perjuangan ayahnya pada masa menjelang kemerdekaan Indonesia.
Pada 2 Juni 1945, Awka berada di sisi ayahnya saat sang ulama wafat. Peristiwa itu menjadi titik penting dalam hidupnya.
Merantau dan Memulai Hidup Baru di Amerika
Empat tahun setelah kepergian ayahnya, Awka memutuskan meninggalkan Indonesia. Pada 1949, ia bekerja di kapal yang berlayar ke berbagai negara.
Pada 1950, ia menetap di San Francisco. Di sana, ia mulai menggunakan nama Willy Amrul agar lebih mudah beradaptasi. Ia bekerja paruh waktu di peternakan sambil membangun masa depan.
Pada 1952, ia kembali bertemu dengan sang kakak yang sedang berkunjung ke Amerika. Pertemuan itu berlangsung di San Francisco setelah hampir sepuluh tahun mereka berpisah.
Aktif dalam Dakwah Islam di Amerika
Setelah menetap, Willy bekerja di Konsulat Jenderal RI di San Francisco. Ia juga aktif dalam kegiatan keislaman di Los Angeles dan membantu membangun komunitas masyarakat Indonesia di Amerika Serikat.
Pada 1970, ia menikahi Vera Ellen George. Vera kemudian memeluk Islam dan membangun keluarga bersama Willy. Mereka menjalani kehidupan religius dan dikaruniai tiga anak. Keluarga tersebut bahkan sempat tinggal di Indonesia untuk beberapa waktu.
Keputusan Besar dalam Kehidupan Keluarga
Pada 1981, kehidupan mereka berubah. Vera menyampaikan keinginannya untuk memeluk agama Kristen. Permintaan itu memicu pergulatan batin dalam diri Willy.
Ia menghadapi pilihan sulit antara mempertahankan keyakinan atau menjaga keutuhan rumah tangga. Setelah mempertimbangkan secara mendalam, ia memilih mengikuti keputusan istrinya.
Keluarga tersebut kemudian menjalani baptisan di Kebayoran Baru sebelum kembali ke Amerika Serikat dua tahun kemudian.
Menjadi Pendeta di California
Setelah kembali ke Amerika, Willy mendalami ajaran Kristen secara serius. Ia kemudian melayani jemaat sebagai pendeta di California.
Sejak saat itu, masyarakat mengenalnya sebagai Pendeta Willy Amrul. Ia tetap aktif dalam pelayanan gereja dan sempat kembali ke Sumatera Barat pada 1996 untuk kegiatan rohani sebelum kembali menetap di Amerika.
Willy menghabiskan sisa hidupnya di Amerika Serikat hingga wafat pada 2012. Perjalanannya mencerminkan dinamika keyakinan, keluarga, dan pilihan hidup yang berbeda dari latar belakangnya.
Editor : EL









