Sorotbrita.com – Bulan Ramadan selalu membawa berkah bagi masyarakat Jambi. Warga memanfaatkan momen ini untuk memanen beluluk, buah hutan musiman yang ramai diburu saat puasa. Mereka menjual beluluk, atau kolang-kaling, di pinggir jalan dan pasar tradisional. Menjelang berbuka, banyak orang membeli buah manis ini untuk menu takjil.
Di Desa Jambi Tulo, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, warga memetik beluluk dari kebun dan hutan sekitar, terutama sebelum dan selama Ramadan. Beberapa pemanen memanjat pohon enau untuk mengambil buah yang matang. Setiap orang punya peran: ada yang menyiapkan buah, ada yang memetik, dan ada yang menyortir beluluk siap jual.
Warga Mengolah Beluluk dengan Teliti
Setelah memetik beluluk, warga membawa buah itu pulang. Mereka memisahkan beluluk dari tangkai satu per satu, lalu merebusnya selama satu jam untuk menghilangkan getah. Warga berpengalaman menyeleksi beluluk matang agar aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan gatal.
“Kalau saya bagian kocek dan cukit, biasanya ibu-ibu. Yang panen bapak-bapak ada yang khusus bisa memilih mana yang siap panen,” ujar salah satu warga.
Warga merendam beluluk setelah direbus agar tetap lembut. Kemudian mereka menjual atau menyajikan buah ini. Setiap pemanen menghasilkan sekitar 30 kilogram beluluk per hari dan menjualnya seharga Rp15 ribu per kilogram. Pendapatan itu membantu mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mempersiapkan Lebaran.
Beluluk, Takjil Favorit yang Bertahan dari Waktu ke Waktu
Selama Ramadan, banyak orang membeli beluluk untuk membuat es dan manisan. Warga menjual beluluk di pasar tradisional di Kota Jambi, dan buah ini tetap menghadirkan nostalgia bagi masyarakat. Anak-anak dan orang dewasa menikmati beluluk sebagai bagian tradisi Ramadan, meski makanan kekinian semakin populer.
Beluluk membuktikan bahwa tradisi lokal tetap hidup. Warga mendapatkan manfaat ekonomi sekaligus kenangan masa kecil setiap Ramadan. Ramadan di Jambi terasa kurang lengkap tanpa manisan manis dari pohon enau ini.
Editor : EL









