Jakarta,-Sorotbrita.com ,comLebih dari separuh penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia masih harus bekerja demi menopang kebutuhan hidup. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Sakernas Agustus 2024 mencatat, 55,32% lansia masih aktif secara ekonomi.
Dalam sepuluh tahun terakhir, angka ini terus meningkat. Kenaikan tersebut sejalan dengan bertambahnya usia harapan hidup dan perubahan struktur demografi Indonesia yang kini memasuki fase ageing population.
Desa Menahan Lansia Lebih Lama di Dunia Kerja
Partisipasi kerja lansia paling tinggi terjadi di wilayah perdesaan. Sebanyak 65,24% lansia di desa masih bekerja, jauh melampaui kawasan perkotaan yang angkanya berada di bawah 50%.
Pola ini konsisten dari tahun ke tahun. Desa cenderung mempertahankan lansia lebih lama dalam aktivitas ekonomi, sementara kota lebih cepat “melepaskan” mereka dari pasar kerja.
Pendidikan Rendah, Pilihan Kerja Terbatas
Mayoritas lansia yang bekerja berasal dari kelompok berpendidikan rendah. Hampir delapan dari sepuluh lansia hanya tamat SD atau tidak menyelesaikan pendidikan dasar.
Kondisi ini membuat pilihan kerja mereka sangat terbatas. Tanpa keterampilan formal, lansia lebih mudah terserap di sektor yang tidak mensyaratkan pendidikan tinggi.
Pendidikan Rendah, Pilihan Kerja Terbatas
Mayoritas lansia yang bekerja berasal dari kelompok berpendidikan rendah. Hampir delapan dari sepuluh lansia hanya tamat SD atau tidak menyelesaikan pendidikan dasar.
Kondisi ini membuat pilihan kerja mereka sangat terbatas. Tanpa keterampilan formal, lansia lebih mudah terserap di sektor yang tidak mensyaratkan pendidikan tinggi.
Pertanian Jadi Penopang Utama
Sektor pertanian menjadi tumpuan utama. Sebanyak 52,19% lansia bekerja di sektor pertanian, disusul usaha jasa sederhana dan perdagangan kecil.
Dari sisi status pekerjaan, dua pertiga lansia bekerja sebagai usaha sendiri atau usaha keluarga, baik dengan maupun tanpa buruh. Hubungan kerja formal hampir tidak mereka akses.
Editor : EL









