Sorotbrita.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Iran berada dalam kondisi genting setelah gelombang protes anti-pemerintah mengguncang negara tersebut selama dua pekan terakhir. Trump bahkan mengancam akan menyerang Iran dengan alasan melindungi para demonstran.
Trump menyampaikan pernyataan itu kepada wartawan usai bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak Amerika Serikat. Ia mengklaim rakyat Iran telah menguasai sejumlah kota, sesuatu yang menurutnya tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Rakyat mengambil alih kota-kota tertentu yang beberapa minggu lalu tidak mungkin terjadi,” ujar Trump, dikutip dari Al Arabiya English, Minggu (11/1/2026).
Trump kembali memperingatkan pemerintah Iran agar tidak menembaki para demonstran. Ia menegaskan Amerika Serikat terus memantau situasi dengan sangat ketat.
“Kami akan terlibat. Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras di titik paling lemah,” ancam Trump.
Meski demikian, Trump menegaskan ancaman tersebut tidak berarti Amerika Serikat akan mengerahkan pasukan darat ke Iran.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan pemerintahannya tidak akan mundur menghadapi protes. Pernyataan itu muncul setelah demonstrasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir mengguncang otoritas ulama.
Para demonstran terus turun ke jalan di berbagai kota besar Iran. Mereka meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah, termasuk “mati bagi diktator”, serta membakar gedung-gedung pemerintah.
Trump menyebut gelombang protes tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa. “Ini menakjubkan untuk disaksikan,” katanya.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa keamanan nasional merupakan “garis merah”. IRGC menegaskan akan bertindak tegas untuk melindungi properti publik.
Media pemerintah Iran melaporkan sebuah gedung pemerintahan di Karaj, sebelah barat Teheran, dibakar. Otoritas menyebut pelaku pembakaran sebagai perusuh. Televisi pemerintah juga menyiarkan pemakaman anggota pasukan keamanan yang tewas dalam kerusuhan di Shiraz, Qom, dan Hamedan.
Protes awalnya muncul akibat lonjakan inflasi, namun dengan cepat berubah menjadi gerakan politik yang menuntut berakhirnya pemerintahan ulama.
Editor : EL









