Agus Martowardojo: Risiko Tinggi Hambat Swasta Ikut Infrastruktur

Pemerintah harus turunkan risiko proyek agar investor swasta mau masuk, kata Agus Martowardojo.

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 16 Januari 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta-Sorotbrita.com , Ekonom dan mantan Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyoroti minimnya peran swasta dalam proyek infrastruktur besar di Indonesia. Menurutnya, penyebab utama bukan kekurangan dana, melainkan risiko tinggi dan ketidakpastian proyek.

“Kalau APBN atau Danantara membiayai proyek, tetapi risikonya tinggi, proyek itu tetap tidak menarik bagi investor dan memakan waktu lama,” kata Agus saat berbicara di Indonesia Business Council, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Kendala Proyek Infrastruktur

Agus menyebut beberapa faktor yang sering menghambat pembangunan:

1 Kesiapan Proyek

Banyak proyek tertunda karena perizinan dan pembebasan lahan berjalan lambat. Investor sulit masuk jika persiapan tidak matang.

Baca Juga :  Pemerintah Siapkan Diskon Tiket Pesawat Lebaran 2026

2 Risiko Permintaan

Proyek besar kadang dibuat tanpa analisis permintaan yang jelas. Misalnya, jumlah penumpang kereta atau volume lalu lintas sering diproyeksikan secara kasar.

3 Struktur Hukum dan Skema Kerja Sama

Skema PPP atau BOT harus mengikuti praktik internasional. Struktur hukum yang aneh membuat investor enggan terlibat.

4 Kepastian Pembayaran

Proyek tetap berisiko jika pemerintah tidak menjamin pembayaran dengan jelas.
Peran Pemerintah
Agus menekankan pemerintah sebaiknya menjadi katalis. Pemerintah harus menurunkan risiko dan menyiapkan proyek agar investor besar mau masuk.

Peran Pemerintah

Baca Juga :  Pramono Resmikan Waduk di Cilangkap, Genangan Kini Berkurang

Agus menekankan pemerintah sebaiknya menjadi katalis. Pemerintah harus menurunkan risiko dan menyiapkan proyek agar investor besar mau masuk.

Contoh peran pemerintah:

– Menyusun studi kelayakan dan desain awal (FEED)

– Menyediakan skema EPC (Engineering, Procurement, Construction)
– Memberikan Viability Gap Fund untuk proyek yang kurang layak
– Menyediakan skema Availability Payment untuk proyek strategis

Ia menegaskan, pembagian risiko dan penjaminan pemerintah harus dibatasi. Hal ini mencegah beban fiskal berlebihan.
“Dengan cara ini, modal besar masuk, swasta aktif, dan pembangunan infrastruktur lebih cepat,” pungkas Agus.

 

Editor : EL

Berita Terkait

Indonesia Kembangkan Biofuel Berbasis Nyamplung
Indonesia Impor Ayam AS untuk Peternak Lokal
Terungkap! Negara Ini Kuasai Produksi Cabai Hijau Dunia
KITMAS, Koperasi Tembakau Pertama di Indonesia Diresmikan
Minuman Pagi untuk Turunkan Kolesterol dan Jaga Jantung”
Produksi Pick-Up Lokal Dorong Ekonomi dan Lapangan Kerja”
Mi Instan Indonesia Pimpin Pertumbuhan Pasar Global
Pramudya Iriawan Buntoro Jadi Dirut BPJS Ketenagakerjaan
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 Maret 2026 - 15:00 WIB

Indonesia Kembangkan Biofuel Berbasis Nyamplung

Kamis, 26 Februari 2026 - 15:00 WIB

Indonesia Impor Ayam AS untuk Peternak Lokal

Selasa, 24 Februari 2026 - 07:00 WIB

Terungkap! Negara Ini Kuasai Produksi Cabai Hijau Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 - 09:00 WIB

KITMAS, Koperasi Tembakau Pertama di Indonesia Diresmikan

Sabtu, 21 Februari 2026 - 13:00 WIB

Minuman Pagi untuk Turunkan Kolesterol dan Jaga Jantung”

Berita Terbaru