Jakarta – Sorotbrita.com,Alam ternyata punya kekuatan tersembunyi: hutan bisa pulih sendiri. Studi terbaru di jurnal Nature menemukan bahwa sekitar 530 juta hektar lahan tropis bekas hutan bisa kembali hijau jika manusia membiarkan dan melindungi lahan itu dari gangguan.
Jika hutan kembali tumbuh, mereka bisa menyerap hingga 23,4 gigaton karbon dalam 30 tahun. Dampaknya? Iklim lebih stabil, keanekaragaman hayati pulih, air bersih lebih terjaga, dan tanah lebih sehat.
Regenerasi Alami Lebih Murah dan Beragam
Biaya regenerasi alami jauh lebih rendah dibanding menanam pohon secara aktif. Kita hanya perlu USD 5 per acre, jauh lebih murah dibanding menanam pohon yang bisa menghabiskan USD 10.000 per acre. Selain hemat biaya, hutan alami lebih beragam dan lebih stabil dalam jangka panjang.
“Dengan membiarkan alam bekerja, negara bisa merestorasi hutan secara efektif dan hemat,” ujar Brooke Williams, peneliti dari Queensland University of Technology.
Manusia tetap berperan penting. Mencegah kebakaran, mengendalikan spesies invasif, dan memasang pagar untuk ternak bisa mempercepat pertumbuhan hutan.
Indonesia Salah Satu Kunci Dunia
Para peneliti menemukan lima negara menyumbang lebih dari setengah potensi regenerasi alami dunia: Brasil, Indonesia, China, Meksiko, dan Kolombia. Faktor kunci keberhasilan? Tanah kaya karbon dan kedekatan dengan hutan utuh, karena benih menyebar lebih mudah.
Data satelit 2000–2015 menunjukkan hutan kembali tumbuh paling cepat dalam radius 300 meter dari hutan yang ada. Para peneliti membuat peta digital 30 meter menggunakan citra satelit resolusi tinggi dan AI, agar pemerintah dan komunitas lokal bisa menentukan area prioritas restorasi.
Tantangan Regenerasi Alami
Hutan muda tetap rentan terhadap pertanian, pembangunan, dan kebakaran. Masyarakat lokal perlu diberi insentif, dan pemerintah perlu melindungi lahan jangka panjang. Banyak skema karbon saat ini belum mendukung hutan alami, sehingga perlu reformasi kebijakan.
“Tanpa perlindungan, janji regenerasi alami bisa hilang secepat munculnya,” kata Matthew Fagan, ahli sistem lingkungan dari University of Maryland.
Editor : EL









