Jakarta– Sorotbrita.com ,Sepanjang 2024, harga batu bara global mengalami tekanan. Namun demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta melemahkan kekayaan para pengusaha besar Indonesia yang bergerak di sektor tambang batu bara.
Pada awal Desember 2024, pasar mencatat pelemahan harga batu bara dunia. Salah satu penyebabnya, produksi batu bara India melonjak hampir 10% secara tahunan pada November 2024. Akibatnya, pasokan global meningkat dan menekan harga.
Berdasarkan data Barchart, harga batu bara acuan Newcastle untuk kontrak Januari 2025 tercatat sebesar US$136 per ton pada Senin (2/12/2024). Angka ini turun 2,1% dibandingkan posisi sebelumnya.
Meski demikian, sektor batu bara tetap menjadi mesin utama pencetak kekayaan bagi sejumlah konglomerat.
Low Tuck Kwong Masih Perkasa di Tengah Fluktuasi Harga
Low Tuck Kwong menguasai PT Bayan Resources Tbk, salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia.
Melalui efisiensi biaya dan fokus pada pasar ekspor, Low menjaga kinerja perusahaannya tetap solid. Oleh karena itu, fluktuasi harga global tidak terlalu menggerus kekayaan pribadinya.
Forbes pun menempatkan Low sebagai orang terkaya ke-4 di Indonesia dengan kekayaan mencapai US$24,9 miliar.
Keluarga Widjaja Perluas Bisnis Batu Bara ke Luar Negeri
Sementara itu, keluarga mendiang Eka Tjipta Widjaja terus mengembangkan bisnis energi di bawah payung Sinar Mas Group.
Melalui PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), grup ini mengendalikan sejumlah aset batu bara. Selain itu, anak usahanya, Golden Energy and Resources Ltd. (GEAR), mengoperasikan tambang di Australia dan mengakuisisi Stanmore Coal.
Di dalam negeri, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) berperan sebagai kontributor utama produksi batu bara grup.
Alhasil, Forbes mencatat total kekayaan keluarga Widjaja mencapai US$28,3 miliar per akhir 2025.
Garibaldi Thohir Bangun Raksasa Batu Bara Terintegrasi
Di sisi lain, Garibaldi Thohir membangun kerajaan bisnis batu bara melalui PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) bersama Theodore Permadi Rachmat dan Edwin Soeryadjaya.
Sejak IPO pada 2008, Adaro berkembang pesat. Tidak hanya itu, perusahaan ini juga memperluas bisnis ke pembangkit listrik dan energi terintegrasi.
Dengan strategi tersebut, Forbes mencatat kekayaan Garibaldi Thohir mencapai US$3,8 miliar atau sekitar Rp64,2 triliun.
Kiki Barki Fokus pada Tambang Batu Bara Swasta
Berikutnya, Kiki Barki dikenal sebagai pendiri PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang berdiri sejak 1995.
Selain Harum Energy, ia juga mengelola tambang batu bara swasta Tanito Harum. Kini, estafet bisnis keluarga berlanjut ke generasi berikutnya.
Putra sulungnya, Lawrence Barki, menjabat Presiden Komisaris Harum Energy. Dengan demikian, kendali bisnis tetap berada di tangan keluarga.
Forbes mencatat kekayaan Kiki Barki sebesar US$1,3 miliar pada 2024.
Edwin Soeryadjaya Ikut Panen dari Boom Batu Bara
Terakhir, Edwin Soeryadjaya turut menikmati pertumbuhan sektor batu bara nasional.
Putra salah satu pendiri Astra ini mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) bersama Sandiaga Uno. Selanjutnya, Edwin memperluas investasinya ke sektor tambang batu bara saat industri ini tumbuh pesat pada era 2000-an.
Ia juga terlibat dalam pengembangan perusahaan tambang besar seperti Pama Persada. Hasilnya, Forbes mencatat kekayaan Edwin mencapai US$1,2 miliar pada 2025.
Editor : EL









