Jember, Jawa Timur – Prof. Abubakar Eby Hara, Guru Besar Politik Internasional Universitas Jember (Unej), menegaskan bahwa kehadiran Indonesia di World Economic Forum (WEF) di Davos lebih bersifat simbolis daripada strategis.
Menurut Eby Hara, WEF bukan lembaga pembuat kebijakan ekonomi global. “Di Davos tidak ada perubahan kebijakan perdagangan, restrukturisasi utang, atau komitmen transfer teknologi yang mengikat,” katanya di Kampus FISIP Unej, Rabu.
Bagi negara berkembang, isu penting seperti ketimpangan akses pasar, proteksionisme negara maju, atau ketidakadilan rantai pasok global biasanya berhenti di level wacana. Pertemuan di Davos hanya memberi panggung bicara, bukan kekuatan untuk memaksa perubahan.
Eby Hara menilai WEF adalah ruang bagi elite ekonomi dan politik dunia—kepala negara kuat, CEO multinasional, dan institusi keuangan besar—untuk saling mengonfirmasi posisi mereka. Bagi negara berkembang, kehadiran di sana sering bersifat kosmetik, sebagai tanda keterbukaan terhadap investasi dan agenda global, tetapi jarang menghasilkan keuntungan nyata.
“Struktur ekonomi global yang timpang tetap terjaga, meski dibungkus dengan istilah manis seperti inclusive growth dan sustainability,” ujarnya. WEF juga menjadi panggung prestise, di mana negara besar disorot, sedangkan negara lain hanya figuran.
Masalahnya, pertemuan ini sering menciptakan ilusi kemajuan. Setelah Davos, kebijakan proteksionis tetap berjalan, subsidi tetap timpang, utang negara berkembang bertambah, dan kesenjangan global melebar. Kesepakatan investasi yang diumumkan sering dibingkai sebagai keberhasilan diplomasi, tetapi dampaknya terhadap lapangan kerja, industri nasional, dan kesejahteraan masih dipertanyakan.
Eby Hara menekankan, perubahan nyata tidak akan datang dari Davos, melainkan dari keberanian politik untuk menantang struktur ekonomi global yang tidak adil. Strategi pembangunan efektif bagi negara berkembang tetap harus berfokus pada kebijakan domestik yang kuat, kerja sama regional, dan reformasi institusi global.
“Davos hanyalah cermin dunia saat ini, dikuasai oleh segelintir elite yang berbicara tentang perubahan tanpa mengorbankan kepentingannya sendiri,” tutupnya.









