Jakarta – Sorotbrita.com, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memangkas produksi mineral, termasuk nikel, pada 2026. Tujuannya adalah menstabilkan harga nikel di pasar global. Selain itu, kebijakan ini juga menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Tri Winarno, menyatakan pemerintah menargetkan harga nikel dunia di kisaran US$ 19.000–20.000 per ton.
“Mudah-mudahan bisa di level US$ 19.000 sampai US$ 20.000 per ton,” ujar Tri di Gedung DPR RI, Selasa (4/2/2026).
Harga Nikel Global Mulai Naik
Tri menekankan bahwa harga nikel mulai menunjukkan tren kenaikan positif, meski belum termasuk lonjakan ekstrem. Selain itu, pemerintah menilai pengendalian pasokan menjadi langkah strategis agar harga tetap stabil.
Dengan kata lain, meski harga naik, pemerintah masih memiliki ruang untuk mengatur produksi agar pasar tidak kelebihan pasokan.
Pemangkasan Produksi Bisa Capai 260 Juta Ton
Pemerintah tengah mempertimbangkan pemangkasan produksi nikel hingga sekitar 260 juta ton pada 2026. Kebijakan ini bertujuan menjaga harga sekaligus mencegah ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan global.
Selain itu, pengurangan produksi diharapkan menjadi sinyal positif bagi investor dan produsen nikel di Indonesia.
Smelter Wajib Serap Nikel Lokal
Pemerintah juga mewajibkan smelter besar menyerap bahan baku dari pemegang IUP lokal. Kebijakan ini mencegah monopoli rantai pasok dan memberi kepastian pasar bagi pengusaha tambang daerah.
Dengan demikian, pemerintah tidak hanya mengatur harga, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Tren Harga Nikel Dunia dan Nasional
Menurut data Trading Economics, harga nikel dunia mencapai US$ 17.006 per ton, tertinggi dalam 15 bulan terakhir. Pada 14 Januari 2026, harga sempat menyentuh US$ 18.000 per ton.
Sementara itu, harga nikel nasional periode pertama Februari 2026 tercatat US$ 17.774 per ton. Angka ini naik dari periode kedua Januari 2026 US$ 16.426 per ton dan periode kedua Desember 2025 US$ 14.599 per ton.
Dengan demikian, tren harga menunjukkan pemulihan signifikan menjelang pengendalian produksi 2026.
Editor : EL









