Sorotbrita.com – Lapangan Meruap di Sarolangun, Jambi, memulai Field Trial (FT) injeksi kimia pada Februari 2026. Program ini menjadi bagian dari strategi Enhanced Oil Recovery (EOR). Tim teknis menjalankan uji coba ini untuk meningkatkan produksi di lapangan migas matang.
Selama lebih dari satu dekade, lapangan ini mengalami penurunan produksi alami. Karena itu, manajemen mendorong penerapan teknologi kimia untuk mengangkat sisa cadangan yang masih tertinggal di reservoir.
Kondisi Terkini dan Tantangan Produksi
Hingga Januari 2026, Lapangan Meruap mencakup area sekitar 245,9 km². Total terdapat 77 sumur di wilayah kerja ini. Sebanyak 50 sumur aktif memproduksi minyak. Selain itu, 7 sumur berfungsi sebagai sumur injeksi. Sementara itu, 19 sumur berstatus suspended dan 1 sumur telah ditutup permanen.
Kerja Sama Operasi antara PT Pertamina EP dan BWP Meruap berlangsung sejak Juli 2014. Kontrak ini akan berakhir pada September 2035. Selama periode tersebut, pengelola lapangan menjaga standar keselamatan dan lingkungan secara konsisten.
Pada 2010, produksi puncak mencapai sekitar 5.000 barel per hari saat fase primary recovery. Namun, produksi menurun seiring waktu. Pada 2015, saat secondary recovery berjalan, produksi puncak berada di kisaran 2.500 barel per hari.
Saat ini, operator menginjeksikan air sekitar 6.500 BWIPD untuk menjaga tekanan reservoir. Meski begitu, tekanan saja tidak cukup. Oleh sebab itu, tim teknis menyiapkan injeksi kimia sebagai langkah lanjutan.
Skema dan Target Injeksi Kimia
Dalam FT ini, tim menguji tiga pola injeksi. Dua pola memakai skema SeMAR dengan konsentrasi kimia 0,5 persen. Sebaliknya, satu pola menggunakan metode RCT dengan konsentrasi 2 persen.
Tim menargetkan injeksi sebesar 0,1 pore volume. Mereka menetapkan laju injeksi sekitar 1.000 BWIPD. Berdasarkan simulasi, pola SeMAR berpotensi menaikkan recovery factor hingga 5,5 persen. Sementara itu, pola RCT dapat meningkatkan hingga 11 persen.
Secara teknis, tim menjalankan tiga tahapan utama. Pertama, mereka melakukan pre-flush dengan air dan KCL pada skema tertentu. Kemudian, mereka masuk ke tahap main-flush dengan larutan kimia serta proses soaking atau cycling. Terakhir, mereka melakukan post-flush untuk mendorong fluida menuju sumur produksi.
Melalui tahapan tersebut, tim ingin meningkatkan sweep efficiency. Selain itu, mereka berupaya memobilisasi minyak yang masih terperangkap di pori batuan.
Dukungan Fasilitas dan Arah Pengembangan
Lapangan Meruap memiliki dua block station berkapasitas sekitar 10 ribu barel. Selain itu, tersedia stasiun pengumpul utama berkapasitas sekitar 20 ribu barel. Dengan fasilitas ini, operator dapat mengelola program injeksi secara terukur.
Jika hasil uji coba menunjukkan kinerja positif, manajemen akan memperluas penerapan EOR kimia. Dengan demikian, Lapangan Meruap dapat menjadi model pengembangan lapangan migas matang di Sumatra.
Pada akhirnya, program ini menandai perubahan strategi pengelolaan. Operator tidak lagi hanya menahan laju penurunan produksi. Sebaliknya, mereka aktif mengejar peningkatan produksi melalui teknologi yang lebih agresif dan terencana.
Editor : EL









