Jakarta-Sorotbrita.com, Skema Kerja Sama Operasi (KSO) sawit yang melibatkan PT Agrinas Palma Nusantara menimbulkan konsekuensi politik dalam tata kelola agraria. Skema ini tidak hanya menyangkut pengelolaan lahan sitaan, tetapi juga memengaruhi relasi negara, BUMN, aparat keamanan, dan masyarakat lokal.
Konflik Sosial Pasca Pengalihan Lahan
Seiring pengalihan pengelolaan lahan sawit sitaan kepada Agrinas, konflik sosial di sejumlah daerah mulai meningkat. Direktur Eksekutif Sawit Watch, Achmad Surambo, menilai negara kerap mengambil alih lahan tanpa verifikasi menyeluruh terhadap wilayah adat dan kebun rakyat.
Akibatnya, ketegangan antara negara dan masyarakat lokal sulit dihindari. “Kami menerima banyak laporan konflik di lapangan setelah lahan dialihkan ke Agrinas. Negara seharusnya memastikan tidak ada tumpang tindih dengan wilayah adat maupun kebun masyarakat,” ujar Surambo, Kamis (8/1/2025).
Kritik terhadap Pendekatan Keamanan
Selain itu, Surambo mengkritik pola pengamanan lahan yang mengandalkan aparat keamanan. Menurutnya, pendekatan ini memperlihatkan watak kebijakan agraria yang berorientasi keamanan, bukan penyelesaian struktural.
Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah menghentikan pendekatan militeristik. Sebaliknya, negara perlu menerapkan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) agar pengelolaan lahan sitaan berjalan adil dan partisipatif.
“Tanpa FPIC, negara justru memproduksi konflik baru. Padahal, tujuan utamanya adalah redistribusi lahan bagi masyarakat lokal,” tegasnya.
Implikasi Ekonomi-Politik KSO
Sementara itu, dari sisi akademik, Pengamat Ekonomi Universitas Palangkaraya, Fitriana Husnatarina, menilai keterlibatan Agrinas dalam skema KSO membawa implikasi ekonomi-politik yang strategis. Menurutnya, kehadiran BUMN di industri sawit tidak hanya mengubah struktur pasar, tetapi juga memengaruhi relasi kekuasaan.
Pada dasarnya, konsep KSO bertujuan mendorong pemberdayaan masyarakat dan hubungan saling menguntungkan. Namun demikian, kontrol negara dalam aktivitas ekonomi tetap mengandung risiko.
Editor : EL









