Sorotbrita.com – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurahman menilai impor ilegal menjadi penghambat utama pertumbuhan UMKM. Ia menegaskan masalah bukan berasal dari skema Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Menurut Maman, pemerintah sudah menyalurkan pembiayaan KUR hingga Rp1.600 triliun tahun ini. Angka itu menunjukkan komitmen kuat terhadap sektor UMKM. Namun, banyak pelaku usaha tetap sulit berkembang.
Bukan Soal Modal, Tapi Akses Pasar
Maman menyebut pelaku UMKM sebenarnya sudah mendapat akses modal yang memadai. Tantangan utama justru muncul saat mereka menjual produk di pasar.
Produk lokal harus bersaing dengan barang impor murah. Banyak barang tersebut masuk secara ilegal. Harga yang lebih rendah membuat produk UMKM kalah bersaing.
Akibatnya, penjualan turun. Arus kas terganggu. Pelaku usaha pun kesulitan membayar cicilan kredit.
Kredit Macet Picu Dampak Sosial
Maman menjelaskan kredit macet tidak hanya memengaruhi perbankan. Kondisi ini juga menekan kehidupan rumah tangga pelaku UMKM.
Saat pelaku usaha gagal membayar utang, tekanan ekonomi meningkat. Konflik keluarga bisa muncul. Anak-anak juga berisiko terdampak, termasuk dalam akses pendidikan.
Karena itu, Maman meminta semua pihak melihat persoalan UMKM secara menyeluruh. Ia menilai pembiayaan saja tidak cukup tanpa perlindungan pasar.
Pemerintah Perketat Pengawasan Impor
Maman mengaku telah berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Pemerintah ingin menutup celah impor ilegal dari hulu ke hilir.
Ia juga menyoroti dugaan kerja sama antara oknum perusahaan kargo dan oknum aparat Bea Cukai. Praktik tersebut memungkinkan barang ilegal masuk ke pasar domestik.
Menurutnya, praktik ini tidak hanya terjadi di satu daerah. Karena itu, pemerintah akan memperketat pengawasan di berbagai pintu masuk barang impor.
Maman berharap langkah ini bisa memperkuat daya saing produk lokal. Dengan pasar yang lebih adil, UMKM dapat tumbuh dan risiko kredit macet bisa ditekan.
Editor : EL









