Jepang Gelar Pemilu Sela, Takaichi Cari Mandat Publik

Pemerintah China menolak menanggapi pembubaran majelis rendah Jepang oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi. Beijing menyebutnya urusan dalam negeri Jepang.

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 25 Januari 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beijing – Sorotbrita.com,Pemerintah China menolak menanggapi keputusan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membubarkan majelis rendah parlemen Jepang. Beijing menilai langkah itu murni urusan dalam negeri Jepang.

“Pembubaran majelis rendah adalah urusan internal Jepang. Kami tidak berkomentar mengenai hal itu,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (23/1).

Takaichi Gelar Pemilu Sela

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membubarkan majelis rendah pada Jumat (23/1) dan menetapkan pemilu sela pada 8 Februari 2026. Ia ingin memperoleh mandat publik untuk agenda ekonomi dan keamanan pemerintahannya.

Baca Juga :  Agam Rinjani, Simbol Keberanian dan Pengabdian di Rinjani

Kabinet menyetujui pembubaran majelis rendah yang memiliki 465 kursi setelah LDP membentuk koalisi baru dengan Partai Inovasi Jepang.

Langkah ini jarang terjadi. Jepang terakhir membubarkan parlemen pada awal masa sidang reguler hampir 60 tahun lalu. Padahal, masa jabatan anggota parlemen saat ini baru berakhir pada 2028.

Alasan Pembubaran

Takaichi menjabat sejak Oktober 2025. Ia menyatakan pemerintahannya belum mendapat mandat langsung dari rakyat, termasuk untuk koalisi baru.

Pemilu ini menjadi yang pertama bagi Takaichi sebagai perdana menteri. Saat ini, koalisi pemerintah hanya memiliki mayoritas tipis di majelis rendah dan menjadi minoritas di Dewan Penasihat.

Baca Juga :  Prabowo Targetkan Penyitaan Jutaan Hektare Lahan Sawit Ilegal

Kondisi itu membuat pemerintah harus bekerja sama dengan partai lain untuk meloloskan undang-undang.

Isu Utama Kampanye

Masa kampanye dimulai otomatis setelah pembubaran parlemen. Isu ekonomi menjadi sorotan, terutama pajak konsumsi atas bahan pangan di tengah inflasi.

Pemerintah menawarkan penangguhan pajak. Oposisi mendorong penghapusan penuh pajak itu.

Blok oposisi baru, Aliansi Reformasi Sentris, juga ikut pemilu. Aliansi ini dibentuk oleh Partai Demokrat Konstitusional Jepang dan Partai Komeito. Mereka memiliki 165 kursi di majelis rendah dan menargetkan mengalahkan blok konservatif penguasa.

Editor : EL

Berita Terkait

Bryan Johnson Debut di Paris Fashion Week
Jadwal Mekar Sakura Jepang 2026
Juventus Bungkam Pisa 4-0, Tetap di Posisi 6 Liga Italia
Wang Yi Kutuk Perang, Serukan Dialog dengan AS
Newcastle Tumbangkan MU 2-1 Meski Bermain dengan 10 Pemain
Ahmadinejad Dilaporkan Masih Hidup Usai Isu Serangan
Iran Klaim Hadapi Konflik Total dengan AS dan Israel
Strasbourg Lolos Semifinal Piala Prancis
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 18:00 WIB

Bryan Johnson Debut di Paris Fashion Week

Senin, 9 Maret 2026 - 17:00 WIB

Jadwal Mekar Sakura Jepang 2026

Senin, 9 Maret 2026 - 13:00 WIB

Juventus Bungkam Pisa 4-0, Tetap di Posisi 6 Liga Italia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:00 WIB

Wang Yi Kutuk Perang, Serukan Dialog dengan AS

Jumat, 6 Maret 2026 - 13:00 WIB

Newcastle Tumbangkan MU 2-1 Meski Bermain dengan 10 Pemain

Berita Terbaru