Thomas Djiwandono Perkuat Sinergi Fiskal-Moneter

Thomas Djiwandono Dorong Sinergi Fiskal dan Moneter

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 27 Januari 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta–Sorotbrita.com, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih, Thomas Djiwandono, ingin memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter, khususnya pada pengelolaan likuiditas dan suku bunga, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut berbeda dengan skema burden sharing yang pemerintah dan BI terapkan pada masa pandemi COVID-19.

Dorong Sinergi Fiskal-Moneter di Luar Skema Pandemi

Thomas menyampaikan pandangan tersebut usai mengikuti uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur BI di Jakarta, Senin.

“Yang ingin saya dorong adalah sinergi fiskal dan moneter di level likuiditas dan suku bunga. Pendekatan ini berbeda secara fundamental dengan kebijakan pada masa pandemi,” kata Thomas.

Baca Juga :  Kesadaran Hidup Sehat Dorong Minat Makanan Tradisional

Ia menilai Indonesia saat ini membutuhkan pola sinergi kebijakan yang baru seiring upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Likuiditas Jadi Instrumen Pendukung Pertumbuhan

Thomas merujuk Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Melalui aturan tersebut, bank sentral menjalankan pengelolaan likuiditas tidak hanya untuk menjaga stabilitas moneter, tetapi juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, kebijakan moneter BI selama ini sudah bersifat akomodatif.

Penurunan BI-Rate Belum Sepenuhnya Tersalurkan

Thomas mencatat BI telah menurunkan BI-Rate dari 6,25 persen pada 2024 menjadi 4,75 persen saat ini. Namun, ia menilai penurunan tersebut belum sepenuhnya menurunkan suku bunga kredit di sektor riil.

Baca Juga :  Megawati Hadiri Hari Kedua Rakernas I PDI-P 2026 di Ancol

Ia menjelaskan, setiap penurunan BI-Rate sebesar 1 persen hanya menurunkan bunga kredit modal kerja sekitar 0,27 persen dalam enam bulan. Dalam jangka tiga tahun, penurunan maksimal hanya mencapai 0,59 persen.

Perlu Koordinasi dengan Kebijakan Fiskal

Thomas menilai lambatnya transmisi kebijakan moneter menunjukkan perlunya penguatan koordinasi dengan kebijakan fiskal dan otoritas keuangan lainnya.

“Dampak kebijakan moneter membutuhkan waktu lama dan tidak tersalurkan secara penuh. Karena itu, sinergi kebijakan menjadi penting,” ujarnya.

 

Editor : EL

Berita Terkait

Minuman Pagi untuk Turunkan Kolesterol dan Jaga Jantung”
Produksi Pick-Up Lokal Dorong Ekonomi dan Lapangan Kerja”
Mi Instan Indonesia Pimpin Pertumbuhan Pasar Global
Pramudya Iriawan Buntoro Jadi Dirut BPJS Ketenagakerjaan
Saifullah Yusuf Mulai Ground Check PBI-JK Nonaktif
Prabowo Percepat Penanganan Stunting dan SDM
PFN Dorong Daerah Bangun Bioskop Negara
Insiden Tabrak Pagar Rumah Jusuf Kalla Berakhir Damai
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 13:00 WIB

Minuman Pagi untuk Turunkan Kolesterol dan Jaga Jantung”

Sabtu, 21 Februari 2026 - 09:00 WIB

Produksi Pick-Up Lokal Dorong Ekonomi dan Lapangan Kerja”

Sabtu, 21 Februari 2026 - 06:00 WIB

Mi Instan Indonesia Pimpin Pertumbuhan Pasar Global

Jumat, 20 Februari 2026 - 15:00 WIB

Pramudya Iriawan Buntoro Jadi Dirut BPJS Ketenagakerjaan

Jumat, 20 Februari 2026 - 14:00 WIB

Saifullah Yusuf Mulai Ground Check PBI-JK Nonaktif

Berita Terbaru