Jakarta– Sorotbrita.com, Harga batu bara terus melemah menjelang Tahun Baru Imlek di China. Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Senin (26/1/2026), harga batu bara ditutup di US$ 110 per ton, turun 1,35%, memperpanjang penurunan 2,6% selama tiga hari berturut-turut.
Pasar batu bara China masih belum menunjukkan tren bullish. Harga di tingkat tambang (mine-mouth) dan pelabuhan sama-sama mengalami penurunan dalam sepekan terakhir, menandakan tekanan pasar yang berkelanjutan.
Meski ada kenaikan tipis di tingkat tambang akibat pembatasan pasokan sementara, gangguan cuaca, dan pembelian restocking jangka pendek oleh pembangkit listrik, pasar menilai fundamental masih lemah. Pertumbuhan konsumsi listrik melambat, transisi energi berjalan, dan pemerintah masih bisa menekan harga jika terlalu tinggi.
Menjelang libur Imlek, sebagian pembangkit listrik dan industri mulai melakukan pengecekan stok dan pembelian terbatas. Namun, permintaan masih hati-hati dan selektif, dengan pembeli mengambil volume minimum sambil menunggu harga lebih rendah. Persediaan di pelabuhan masih longgar, sehingga harga sulit naik tajam.
Fenomena ini biasa terjadi sebelum libur panjang di China. Spring Festival 2026 berlangsung pada 15–23 Februari, dan aktivitas bisnis biasanya melambat karena pekerja pulang kampung dalam tradisi Chunyun, yang berdampak pada penurunan permintaan barang.
Di sisi lain, kabar positif dari Eropa tidak menahan pelemahan harga batu bara. Uni Eropa resmi menyetujui rencana pelarangan impor gas Rusia pada akhir 2027, meski Slovakia dan Hungaria menolak. Harga gas Eropa justru turun ke €39,88 per MWh, setelah dua pekan menguat. Batu bara dan gas bersifat substitusi, sehingga harga batu bara turut tertekan.
Editor : EL









