JAKARTA – Sorotbrita.com, Setiap tahun sekitar dua juta warga Indonesia memilih berobat ke luar negeri. Kondisi ini membuat Indonesia kehilangan potensi devisa hingga Rp150 triliun per tahun.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa masyarakat tidak hanya mempertimbangkan harga saat memilih rumah sakit di Malaysia atau Singapura. Banyak pasien mencari kualitas layanan yang lebih baik dan pengalaman berobat yang lebih nyaman.
Kualitas Layanan Jadi Alasan Utama
Budi menjelaskan bahwa rumah sakit di Malaysia dan Singapura menawarkan sistem layanan yang lebih efisien. Pasien bisa langsung bertemu dokter tanpa menunggu terlalu lama. Sebaliknya, sejumlah rumah sakit di dalam negeri masih membuat pasien menunggu hingga beberapa jam.
Durasi konsultasi juga menjadi perhatian. Di Malaysia, dokter meluangkan waktu sekitar 15 hingga 30 menit untuk berdiskusi dengan pasien. Sementara itu, di beberapa rumah sakit Indonesia, dokter hanya memiliki waktu konsultasi yang jauh lebih singkat.
Selain itu, rumah sakit di luar negeri memberikan pengalaman administrasi yang cepat dan pelayanan yang ramah. Faktor-faktor ini mendorong masyarakat memilih berobat ke luar negeri.
Pemerintah Percepat Perbaikan Rumah Sakit
Kementerian Kesehatan kini mempercepat pembenahan di seluruh rumah sakit milik pemerintah. Kemenkes meningkatkan sistem layanan, memperbaiki manajemen, serta mendorong tenaga medis memberikan komunikasi yang lebih baik kepada pasien.
Pemerintah juga berupaya meningkatkan kualitas diagnostik dan memperkuat standar pelayanan. Dengan langkah ini, Kemenkes ingin menghadirkan layanan kesehatan yang cepat, profesional, dan berorientasi pada pasien.
Budi optimistis Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dalam 10 hingga 15 tahun ke depan. Ia bahkan menargetkan Indonesia mampu menjadi tujuan utama wisata medis di kawasan Asia Tenggara.
KEK Sanur Dorong Wisata Medis Indonesia
Untuk mempercepat transformasi sektor kesehatan, pemerintah meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur di Bali. Kawasan ini menjadi pusat pariwisata medis terintegrasi pertama di Indonesia.
Editor : EL









