Jakarta – Sorotbrita.com,Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat ratusan kasus terkait aktivitas terorisme sepanjang 2023–2025. Aparat menangkap 230 orang karena memberi pendanaan kepada kelompok teroris.
Direktur Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Brigjen Mochamad Rosidi, menyampaikan bahwa aparat juga memproses 362 orang di pengadilan atas kasus terorisme. Sebagian besar dari mereka memiliki afiliasi dengan jaringan ISIS.
Rosidi menegaskan bahwa aparat terus memperkuat langkah pencegahan dan penindakan terhadap jaringan yang masih aktif.
Aparat Gagalkan 27 Rencana Serangan
Selama periode 2023–2025, aparat keamanan berhasil menggagalkan 27 rencana serangan teror. Keberhasilan ini menunjukkan peningkatan koordinasi antarinstansi dan penguatan sistem deteksi dini.
Meski tidak terjadi serangan besar dalam periode tersebut, BNPT tetap meningkatkan kewaspadaan. Aparat terus memantau pergerakan jaringan dan mempersempit ruang gerak mereka.
Perempuan Turut Terlibat dalam Aktivitas Terorisme
BNPT mencatat keterlibatan 11 perempuan dalam aktivitas terorisme. Mereka menjalankan berbagai peran strategis, terutama di ruang digital.
Sebagian mengelola grup media sosial, memproduksi konten propaganda, menggalang dana, serta mengatur komunikasi antaranggota jaringan. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa jaringan teror memanfaatkan berbagai peran untuk menjaga keberlangsungan aktivitasnya.
Penyalahgunaan Ruang Digital Meningkat
BNPT menemukan 137 pelaku aktif yang menggunakan ruang digital untuk menyebarkan paham ekstremisme. Selain itu, 32 orang terpapar secara daring lalu bergabung dengan jaringan teroris. Sebanyak 17 orang lainnya menjalankan aktivitas terorisme di ruang digital tanpa terhubung langsung dengan jaringan tertentu.
Rosidi menjelaskan bahwa jaringan teror terus menyesuaikan strategi dengan perkembangan teknologi. Mereka menggunakan berbagai metode penggalangan dana dan komunikasi digital untuk memperluas pengaruh.
BNPT juga mencatat 16 kasus pendanaan terorisme dengan nilai yang mencapai sekitar Rp 5 miliar.
Pemerintah Ingatkan Ancaman Belum Hilang
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia, mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meski tidak terjadi serangan.
Ia menegaskan bahwa nihil serangan bukan berarti ancaman hilang sepenuhnya. Pemerintah terus memperkuat pengawasan serta meningkatkan literasi digital untuk mencegah penyebaran paham radikal.
Editor : EL









