Sorotbrita.com – Mi instan memang praktis dan lezat. Banyak orang memilihnya sebagai solusi cepat saat lapar. Namun, para dokter mengingatkan agar kita tidak menjadikannya menu harian.
Seorang dokter ortopedi asal Mumbai, Dr Manan Vora, menegaskan bahwa kita boleh makan mi instan sesekali. Namun, jika kita mengonsumsinya setiap hari, tubuh bisa mengalami dampak jangka panjang.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih sering memilih makanan segar dan utuh demi menjaga kesehatan usus, energi, dan daya tahan tubuh.
Kandungan Pengawet Perlu Diperhatikan
Produsen mi instan menambahkan TBHQ (Tertiary Butylhydroquinone) untuk menjaga kualitas minyak agar tidak cepat tengik. TBHQ berfungsi sebagai antioksidan sintetis.
Dalam batas aman, zat ini tidak berbahaya. Namun, jika seseorang sering makan makanan yang mengandung TBHQ, tubuh dapat mengalami peningkatan stres oksidatif. Kondisi ini bisa membebani sel dan jaringan tubuh dalam jangka panjang.
Risiko dari Kemasan Cup
Sebagian mi instan cup menggunakan bahan polistirena. Saat seseorang menuangkan air panas ke dalamnya, panas dapat memicu pelepasan partikel mikroplastik dalam jumlah kecil.
Peneliti masih terus mengkaji dampak mikroplastik terhadap kesehatan. Beberapa studi mengaitkannya dengan gangguan pencernaan dan peradangan jika paparan terjadi terus-menerus.
Tinggi Garam dan Perisa Tambahan
Mi instan mengandung garam dalam jumlah cukup tinggi. Bumbu instan juga menghadirkan perisa tambahan dan MSG yang membuat rasa semakin gurih.
Jika seseorang rutin mengonsumsi garam berlebihan, tekanan darah dapat meningkat. Kebiasaan ini juga dapat menaikkan risiko gangguan jantung dan metabolisme.
Dokter Indonesia: Masalah Utama Ada pada Frekuensi Konsumsi
Dokter asal Surabaya, Sungadi Santoso, atau yang dikenal sebagai dr. Sung, menjelaskan bahwa produk mi instan yang terdaftar di BPOM telah melewati uji keamanan pangan.
Menurutnya, masalah muncul ketika seseorang menjadikan mi instan sebagai makanan utama setiap hari.
Mi instan memang menyediakan karbohidrat dan lemak. Namun, makanan ini hanya mengandung sedikit protein, vitamin, mineral, dan serat. Jika seseorang tidak menambahkan sumber gizi lain, tubuh dapat mengalami kekurangan nutrisi.
Editor : EL









